Dari Warkop Mengenang Ray Charles, “I Can’t Stop Loving You!”

0
20
[MercuriusFM Doc]

Juni 2004, empat belas tahun lampau, Ray Charles menghadap pencipta. Ia pergi meninggalkan banyak karya musik dan jutaan penggemar di seluruh dunia.

Ray Charles Robinson, nama lengkapnya, lahir pada 23 September 1930 di Albany, New York, AS. Mahir memainkan berbagai alat musik dan piawai menulis lagu, publik musik dunia mengenal Ray Charles sebagai pelopor ‘soul’ — jenis musik yang menggabungkan gospel, rhythm and blues, dan jazz. Itu lah mengapa, dirinya karib dengan banyak musisi dari beragam genre. Kepadanya kemudian disematkan gelar sebagai “Bapak Musik Soul Dunia”.

Rasa-rasanya, tak seorang pun penyuka musik dan lagu yang tak pernah mendengarkan suara ‘berat-berat becek’ khasnya.

Mess Araound (1957), Georgia on My Mind (1960),  I Believe to My Soul (1961), Hit the Road Jack (1961), I Can’t Stop Loving You (1962), dan Unchain My Heart (2004) adalah beberapa lagu ciptaannya (kecuali Georgia…) yang terkenal dan direkam ulang oleh penyanyi terkenal lainnya. Dia pernah pula bermain dalam film Ballad in Blue, The Blues Brothers, dan Blue’s Big Musical Movie (Blue’s Clues), sebuah film musikal bertema pendidikan untuk anak (1996).

Produksi albumnya terbentang jauh dari masa ke masa: dari 1957 hingga 2004. Bahkan, setelah kepergiannya. “Ray Sings, Basie Swings”, album yang berduet dengan dedengkot jazz dunia Count Basie, diproduksi ulang pada 2005. Entah, sudah berapa puluh album.

Bailey Robinson – Aretha Williams, ayah ibunya, seorang mekanik dan petani. Tapi mereka menjejali Ray kecil dengan musik rakyat Afro Amerika, boogie woogie. Bailey sering mengajak Ray mendengar pertunjukan musik di warkop-warkop di sekitar rumahnya. Usia Ray ketika itu masih tiga tahun.

Dari sebuah warung kopi lah, Ray Charles berkenalan dengan Wylie Pitman, pemilik warkop yang juga musisi. Pitman mengajari Ray bermain piano sampai mahir. Beberapa tahun kemudian Pitman ‘mempekerjakan’ Ray sebagai pemain piano kelompok band yang manggung di café miliknya.

Tapi perjalanan hidup Ray Charles tidak berjalan mulus seperti harapan sang ayah-ibu. Usia empat tahun, Ray merasakan penglihatannya tak begitu berfungsi dengan baik. Beberapa tahun berselang, matanya tak lagi dapat melihat. Dirinya buta, diduga akibat glaukoma. Ia menjadi musisi bertalenta penyandang tuna netra, seperti Stevie Wonder dan Ramona Purba.

Bailey-Aretha tak patah arang demi pengembangan bakat musik anak tercinta. Ray Charles, lalu disekolahkan di lembaga pendidikan khusus tunanetra di St Augustine, Florida, 1937-1945. Ray serius belajar untuk mengembangkan talenta bermusiknya.

Dalam kondisi fisik terbatas, Ray Charles belajar musik klasik mulai dari Bach hingga Beethoven.

Ray kemudian kerap diundang untuk mengisi acara sebagai pemusik, termasuk perayaan ulang tahun presiden George Washington. Di acara ini, dia menyanyikan lagu gubahannya sendiri berjudul Jingle Bell Boogie. Belasan teahun kemudian, Georgia on My Mind versi dirinya dijadikan lagu kebangsaan negara bagian Georgia, negara asalnya. Setelah itu, pencapaian prestasi Ray dari masa remaja hingga di ujung nafasnya (1930-2004) seolah tak juga berujung.

Satu lagu darinya yang menghipnotis dunia: I Can’t Stop Loving You. Kira-kira, kapan terakhir kali Anda pernah menyanyikannya?

I can’t stop loving you|I’ve made up my mind|To live in memory of the lonesome times…|

Iwan R Rachman & Alvin Anggara

(Berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here