Pesan Perdamaian di Hari Jazz Internasional dan Panggung Jazzer Muda Makassar

0
45
Marcelia Lesar, vocalis jazz wanita tanah air, jadi magnitud panggung 'Makassar International Jazz Day 2018'. -Foto: Yosi NR

RADIOMERCURIUS.com|Malam baru saja memunggungi matahari. Suasana ‘Gravity Sky Lounge’ di lantai 20 Swiss-Belhotel Makassar, kelihatan lebih ramai dari biasanya. Sebuah acara pertunjukan musik sebentar lagi bakal dihelat di sana. Di backdrop panggung, terpajang sehelai spanduk bertuliskan “Makassar International Jazz Day 2018”.

Tanggal 30 April, oleh masyarakat dunia, diperingati sebagai hari jazz internasional. Badan dunia PBB, UNESCO, pada 2011 ingin mendedikasikan musik jazz sebagai medium pengantar pesan perdamaian, dialog dan kerjasama antarbangsa. Agar pesan dapat lebih menggaung, UNESCO memilih Herbie Hanckock, pianis jazz asal Amerika Serikat, sebagai Unesco Goodwill Ambassador atau sebagai duta perdamaian. Maka sejak 2012, setiap tahun pada 30 April di malam hari tak lagi menjadi ‘malam yang sepi tiada berbintang’. Ia diisi dengan banyak acara pertunjukan musik jazz live, di beragam tempat, di berbagai kota, di seluruh penjuru dunia.

Di Makassar sendiri, perayaan hari jazz internasional digelar dengan nama Makassar International Jazz Day 2018. Acaranya digelar, ya di situ tadi, di ‘Gravity Sky Lounge’, lantai 20 Swiss-Belhotel, Jalan Ujungpandang 8, Senin, 30 April 2018.

Malam pun, terasa berjalan amat cepat….

Panggung pertunjukan dibuka Mangara Jazz Project, grup jazz asal Makassar. Mereka memainkan berturut-turut tiga nomor instrumentalia: The Chicken (Jacko Pastorius), Pessimisticism (The Crusaders) dan Mammiri The Wind. Lagu yang disebut terakhir, karya Mangara Jazz Project sendiri yang diinspirasi oleh Anging Mammiri. Tentu saja, lagu klasik Makassar ini dimainkan dalam corak etnik dengan banyak mengandalkan peniup saksofonnya, Farrel F Bachtiar (alto sax.) sebagai solis. Di lagu ini, dirinya memainkan banyak nada-nada pentatonik dalam satu tarikan napas, dan dalam tempo lumayan cepat. Teknik fingering-nya pun sangat cepat dan akurat. Malam itu, ia benar-benar memukau banyak penonton.

Farrel, termasuk jazzer muda Makassar yang mengisi formasi Mangara Jazz Project kali ini: Andi Mangara (perkusi), Rizky (gitar), Ari (keyboard), Daniel (bass), dan Firman (drum).

Farrel F Bachtiar dan Mangara Jazz Project dalam pagelaran ‘Makassar International Jazz Day 2018’.
-Foto: Hendra Poerwita-

Saksofonis Farrel F Bachtiar, juga sejumlah musisi jazz muda Makassar lainnya menjadi asa bagi publik jazz di Makassar. Dahaga mereka akan lahirnya sosok musisi jazz muda berbakat dapat terobati, menggantikan sejumlah musisi jazz Makassar terdahulu, seperti dua peniup saksofon ‘gaek’ Yogi dan Felix Bachtiar, ayah kandung Farrel, misalnya.

“Farrel dan musisi jazz muda lainnya, diharapkan jadi regenerasi jazzer Makassar, “ kata Yosi NR, penggagas ‘Makassar International Jazz Day’, usai pertunjukan.

Setelah Mangara Jazz Project, kini giliran Passion Band yang unjuk kebolehan. Panggung pertunjukan dihentakkannya dengan sejumlah komposisi, termasuk This Masqurade dan On Broadway, dua nomor standar yang populer melalui George Benson. Gaya bermain gitaris Yohanes Patandung, yang jadi motor grup, mengingatkan kita kepada Pat Metheny. Dirinya amat tangkas ber-scat singing sambil memetik gitarnya mengikuti melodi lagu, seperti yang sering ditunjukkan Mus Mujiono, musisi idolanya. Pastinya, juga George Benson.

Publik jazz Makassar juga mengenalnya sebagai additional musician yang mengisi gitar pada Sky Project, kelompok yang kerap memainkan repertoar jazz standar yang “mirip permainan John Coltraine”, sebut Yosi NR di sela acara. Mata penonton seakan hanya tertuju pada aksinya memainkan dawai gitar. Maka, dalam beberapa waktu panggung hanya ‘milik’ Yohanes Patandung seorang….

Seperti Yohanes, personil Passion Band juga kebanyakan diisi musisi muda asal Makassar.

Sebelum malam melewati puncaknya, panggung perayaan hari jazz internasional di Makassar menampilkan vocalis jazz wanita, Marcelia Lesar sebagai magnitud panggung. Kehadiran Marcelia seolah akan menutup pagelaran, yang pelaksanaannya di Makassar kali ini memasuki tahun keempatnya sejak 2015, melengkapi keseruan dan romantika pertunjukan. Dengan beberapa nomor vocal termasuk L.O.V.E (Nat King Cole, 1965), diringi Passion Band dirinya juga ikut membawa pesan perdamaian antarbangsa melalui hari jazz dunia (pertama kalinya digelar di Paris, Prancis, 2012). Habis Marcelia bernyanyi, panggung pertunjukan Makassar International Jazz Day 2018 benar-benar diakhiri oleh kehadiran kembali Mangara Jazz Project, dengan sebuah nomor instrumentalia nan rancak milik kelompok jazz fusion Mezzoforte: E.G. Blues (No Limits, 1986).

Malam pun telah benar-benar berlalu, menyisakan banyak kenangan bagi publik jazz Makassar.

Dan Marcelia Lesar, Farrel F Bachtiar, Mangara Jazz Project dan Passion Band telah membuktikan Makassar ialah juga gudangnya talenta muda musik jazz.

Selamat Hari Jazz Internasional! [#]

Reporter: Alvin Anggara||Editor: Iwan R Rachman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here