Bank Sampah Pemkot Makassar dan Bunyi Tiang Listrik Tanda Ajakan Tawuran

0
46
Andi Mangara (moderator), Sahar Ridwan, Ketua Asosiasi Bank Sampah Indoensia, dan Ayyub Salahuddin, Kabid Persampahan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar (dari kiri ke kanan), dalam Coffee Morning HUMAS Pemkot Makassar, di Makassar, Selasa, 17 April 2018. -foto: rio -

RADIOMERCURIUS.com|Seorang kawan setelah pulang dari Soul, Korea Selatan, membagi sebuah pesannya di media sosial. Bunyi pesannya, pemerintah Kota Soul di setiap titik tempat membuang sampah, menyiapkan tujuh wadah untuk tujuh jenis sampah yang berbeda pula. Pesan ini menyertakan juga sebuah foto yang memperlihatkan rupa dan bentuk tujuh penampung sampah sementara itu. Berjejer rapi, berwarna-warni dan berisi informasi jenis sampah peruntukannya.

Dalam hal mengelola sampah, negeri ginseng tampaknya selangkah lebih maju dibanding Makassar. Tapi, pemerintah Kota Makassar tidak tinggal diam begitu saja.

Sejak H Ramdhan Pomanto memimpin Makassar pada 2015, pemkot sudah mencanangkan sebuah program pengelolaan sampah, namanya ‘Bank Sampah’. Program Bank Sampah ini memperoleh kewenangan pengelolaan sampah di Makassar dari Dinas Lingkungan Hidup kepada pemerintah di tingkat Kecamatan dan Kelurahan melalui Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 126 Tahun 2016. Perwali ini sekaligus menjadi implementasi Peraturan Daerah (Perda) Kota Makassar Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Sampah.

Salah satu maksud dan tujuan program Bank Sampah ini, ialah menjadikan sampah lebih bernilai ekonomis bagi banyak pihak, sesuai amanah yang tertuang dalam Perda pengolaan sampah itu.

“Menjadikan sampah lebih punya nilai ekonomis  di banyak kalangan, adalah esensi program Bank Sampah,” Ayyub Salahuddin, Kepala Bidang Persampahan Dinas Lingkingan Hidup Kota Makassar mengungkapkan dalam diskusi ‘Coffee Morning’ HUMAS Pemkot Makassar, di Makassar, Selasa, 17 April 2018.

Hampir tiga tahun program Bank Sampah Kota Makassar berjalan di tengah-tengah aktivitas dan kesibukan warganya.

Berpuluh-puluh ton sampah dibuang warga setiap hari. Sekitar sepertiga di antaranya ditampung di Bank Sampah di tingkat RT-RW. Setelah dipilah berdasarkan jenisnya, organik dan bukan-organik, sampah ditimbang lalu ‘dibarter’ dengan beras atau uang tunai. Pada 2017, tercatat Bank Sampah sudah membeli sampah warga kota sebanyak 1,2 ton sampah anorganik . Nilai tranksaksi Rp 2,9 miliar.

Dan rumus simbiosis mutualisme, atau saling membutuhkan dan menguntungkan pun kemudian berlaku.

Ratusan Bank Sampah di tingkat RT-RW, Kelurahan hingga Kecamatan menampung sampah hasil transaksi. Beberapa hari kemudian, sampah dikirim ke Bank Sampah Pusat di Balai Kota, sebagai tempat penampungan terakhir. Dari sini lah, melalui pihak perarantara, sampah yang sudah dikemas dengan rapi dijual ke pabrik-pabrik yang ada di Makassar, sebagian pula dikirim ke Surabaya.

“2017, [transaksi itu] nilainya hampir Rp 3 miliar, itu jadi salah-satu sumber PAD kita,” cerita Ayyub Salahuddin lagi.

A Reza Anugrah (kiri) Kasubag Pemberitaan HUMAS Makassar, Tita Kamila Duta HUMAS Makassar, Ayyub Salahuddin dan Andi Mangara pose bersama setelah acara diskusi ‘Coffee Moring’ di cafe KOPIAlps, Jalan Ratulangi, Makassar.
-dok. Reza-

Begitulah. Bank Sampah sebagai UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) mendapat delegasi mengelola sampah-sampah warga kota Makassar, dengan melibatkan puluhan pegawai honorer (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja/PPPK). Mereka bekerja sesuai tupoksi, kedudukan dan kewenangannya seperti yang tertuang dalam Perwali nomor 126/2016. Pemerintah Kota  bersama DPRD Makassar menunjukkan itikadnya, dengan memasukkan program ini dalam mata anggaran APBD Kota sejak 2016.

Rp 3,4 miliar, uang digelontorkan ke dalam APBD Kota Makassar setiap tahunnya. Uang sebesar ini akan digunakan ‘menukar’ sampah-sampah milik masyarakat itu. Tidak semuanya memang, kata Ayyub Salahuddin, warga langsung mengambilnya. Sebagian orang menitipkan uang hasil penjualan sampahnya kepada petugas Bank Sampah, sebagai tabungan yang dapat diambil sewaktu-waktu, kapan pun.

Ada pula warga yang menukar sampahnya dengan sejumlah kilogram beras.

Kini, bagi banyak orang dari berbagai kalangan, strata dan lingkungan di Makassar, sampah sudah lebih bernilai ekonomis, hampir setara dengan barang komoditas lainnya. Tak lagi sekadar jadi ‘objek memulung’ belaka. Dg. Te’ne, seorang yang bermukim di sebuah wilayah padat dan rawan tawuran di Makassar mengakui kehadiran Bank Sampah di sekitar tempat tinggalnya telah merubah nasib dan peruntungannya. Nenek perempuan yang mengaku berusia 67 tahun ini, dalam sebulan mampu menghasilkan sedikitnya Rp 1 juta setiap bulannya dari hasil ‘jualan sampah’ melalui Bank Sampah.

Alkisah, sekelompok warga yang tinggal di sebuah kelurahan yang dulu rawan tawuran antarwarga setempat, sekarang punya kebiasaan membunyikan tiang listrik dengan cara memukul-mukulnya dengan batu. Itu sebagai tanda untuk warga agar segera berbondong-bondong menuju ke Bank Sampah, menukarkan sampahnya dengan beras atau mengambil tabungannya.

“Dulu, sebelum Bank Sampah ada di sana, bunyi tiang listrik itu sebagai tanda bagi warga lelaki untuk siap-siap tawuran,” kisah Sahar Ridwan, Ketua Asosiasi Bank Sampah Indonesia, yang juga menjadi narasumber dalam diskusi di acara ‘coffee morning’ itu.

‘Coffee Morning’ adalah sebuah program berseri dwi-mingguan HUMAS Pemerintah Kota Makassar, diadakan dua kali dalam setiap bulan di café KOPIAlps, di Jalan Sam Ratulangi, Makassar. Menghadirkan beberapa narasumber dengan peserta wartawan dari berbagai media pemberitaan di Makassar.

Topik diskusi kali ini adalah ‘Manajemen Persampahan di Kota Makassar”.

“Topiknya berganti setiap acara, biasanya diusulkan oleh teman-teman wartawan,” kata A Reza Anugerah, Kepala Sub Bagian Pemberitaan Humas Pemkot Makassar. [#]

Reporter: Hari Triadi||Editor:  Iwan R Rachman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here