“TOP 10 Indonesian Music of All Time” [Part 2]

0
51
  1. Guru Oemar Bakri – Iwan Fals

Bersuara keras dan lantang dengan kritikan sosial yang tajam, menjadi karakter lagu-lagu Iwan Fals. Liriknya bernada satire, nakal dan kadang pula jenaka. Tak terkecuali, lagunya yang becerita tentang asmara.

Dalam Maaf Cintaku, misalnya. “Ingin kuludahi mukamu yang cantik|agar kau menegerti bahwa kau memang cantik|Ingin ku congkel keluar indah matamu|agar engkau tahu memang indah matamu|”, jadi bait pembuka lagu. Sangat nakal dan jenaka. Tapi ada juga yang lumayan melankolis dan mendayu-dayu. Kemesraan, Yang Terlupakan (Denting Piano) atau Nyanyianmu.

Guru Oemar Bakri, lagu Iwan yang juga nakal dan jenaka.  Lewat lagu ini (album Sarjana Muda, 1981) dirinya bertutur tentang nasib guru, diwakili oleh sosok Umar Bakri. Bakti Umar Bakri dalam dunia pendidikan yang dilukiskan dengan frasa ‘laju sepeda kumbang’, menyiratkan semangat guru Umar menuju sekolah setiap hari dengan sepeda. Liukan harmonika di bagian intro dan interlud kian menambah kejenakaan lagu.

Tapi, apakah sosok Oemar Bakri yang sudah mengabdi selama 40 tahun itu adalah tokoh rekaan atau benar-benar nyata?

  1. Sabda Alam – Ismail Marzuki

Kaum feminis boleh saja menggugat lagu ini. Dua larik di kuplet pertama yang berbunyi “ditakdirkan bahwa pria berkuasa, ada pun wanita lemah lembut manja” tampak terkesan bias gender. Tapi, tentu saja, Ismail Marzuki yang mencipta lagu ini sama sekali tak bermaksud demikian.

Sabda Alam juga masuk dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik Majalah Rolling Stone Indonesia, edisi #57 Desember 2009. Ia menempati posisi ke-40, kategori blues.

Diciptakan pada 1957, lirik Sabda Alam tergolong pendek hanya terdiri dari dua bait. Setiap baitnya terdiri atas empat larik, mirip lagu Love, Fly Me to the Moon atau The Autumn Leaves.

Dua larik terakhirnya, agaknya berpotensi membuat pria jadi galau: “…Namun ada kala pria tak berdaya|tekuk lutut di sudut kerling wanita….”|

Nah, tuh kan, jadi impas!

  1. Indonesia Mahardika – Guruh & Gipsy

Musik adalah universal, alat pemersatu antarbangsa dunia. Tak salah jika ini terus diulang-ulang ketika kita mengobrol soal musik. Musik sebagai salah satu karya seni, sejak dulu telah memadukan seni budaya bangsa dunia (berfusi). Sejarah perkembangan musik jazz di Amerika Serikat, misalnya dapat menjelaskan itu. Karenanya, jazz tak hanya sekedar musik tapi juga soal penghormatan dan mau mendengar (Frans Sartono, Herbie Hancock: Menghormati Sesama Lewat Jazz, 2012).

Guruh Soekarnoputra, agaknya sangat memahami ‘dogma jazz’ itu. Pemahamannya tentang jenis musik sejumlah negara membuat dirinya sukses memadukan musik Eropa dengan musik tradisi nusantara.

Pada 1977, Guruh bersama kelompok band Gipsy mempopulerkan Indonesia Mahardika, menyatukan sejumlah elemen seni budaya berbeda. Musik tradisional gamelan dengan musik klasik Eropa dilebur jadi lagu pop ‘kekinian’.

  1. Tuhan – Bimbo

Pada 1969, demo lagu-lagu Bimbo pernah ditolak mentah-mentah oleh perusahaan rekaman Remaco. Alasannya, lagu contoh Bimbo yang kebetulan berirama pop–flamenco itu, dianggap tidak familiar bagi kebanyakan orang Indonesia.

Tapi semangat Bimbo tidak lantas padam begitu saja. Trio Sam-Jaka-Acil terus mencipta lagu, dan hasilnya ratusan lagu-lagu mereka yang beraneka jenis iramanya menjadi hits. Termasuk lagu bernuansa religi.

Itu Kumis, Melati dari Jaya Giri, Flamboyan, Tuhan, Sajadah Panjang, Ada Anak Bertanya pada Bapaknya dan banyak lagi lainnya menjadi sangat familiar di telinga hampir semua orang Indonesia, tidak seperti dugaan pihak studio rekaman. Bimbo (adiknya, Iin Parlina, kemudian ikut gabung), lalu menjadi identik dengan lagu bertema cinta, sosial dan religi sekaligus.

Maka, saban lebaran pun, lagu Tuhan (album Wudhu, 1991) dikumandangkan hampir setiap jam dalam setiap harinya di banyak stasiun televisi dan radio-radio, jadi teman menyantap kari ayam dan ketupat.

10. Lilin-lilin Kecil – Chrisye

Dikisahkan, pada 1977 Radio Prambors Rasisonia Jakarta menggelar lomba cipta lagu dengan nama Lomba Cipta Lagu Remaja, dikenal kemudian dengan nama LCLR.

Panitia lomba menerima sekitar 100 lagu . Salah seorang peserta bernama Ir James F Sundah medaftarkan lagu ciptaannya berjudul Lilin-lin Kecil. Panitia yang dikoordinir oleh Haryo Heroe Syswanto atau Sys NS, lalu memilih 10 buah lagu yang terbaik dan dibuatkan album kompilasi.

Dan, Lilin-lilin Kecil ditempatkan di posisi pertama!

Tugas panitia lomba selanjutnya ialah mencari penyanyi. Sys NS menunjuk seorang pemain band bernama Krismansyah Rahadi, selanjutnya dikenal sebagai Chrisye, khusus menyanyikan Lilin-lilin Kecil.

Wartawan dan penulis Alberthiene Endah dalam bukunya “Chrisye: Sebuah Memoar Musikal” (2007) mengisahkan, ketika itu Chrisye yang memainkan gitar bas dan sesekali sebagai penyanyi latar, menyetujui permintaan panitia.

Chrisye lalu masuk dapur rekaman untuk pertama kalinya. Judul albumnya sendiri ialah LCLR Prambors 1977. Setelah itu, bersama Jockie Surjoprajogo, Ian Antono, Teddy Sudjaya, membuat Jurang Pemisah (1977), yang dianggap sebagai album pertamanya. Chrisye terus mencipta album demi album dan melahirkan hits, sampai saat ia ‘pergi’ meninggalkan banyak karya seni dan juga penggemarnya pada 30 Maret 2007.

Tapi Lilin-lilin Kecil terus menerangi kehidupan, dengan nilai spiritual yang berada di baliknya, sampai kini.

Begitulah. Sepuluh lagu dalam Top 10 Indonesian Music of All Time RADIOMERCURIUS.com, sudah mengajak Anda bernostalgia. Semoga bermanfaat.

Oh ya, lagu-lagu Indonesia serupa dapat Anda dengarkan melalui acara Mozaik Indonesia di Mercurius 104,3 FM, setiap Sabtu jam 19.00-21.00, bersama Diah Widiswara. [#]

Diolah dari beberapa sumber || Iwan R Rachman & Alvin Anggara

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here