oleh

“TOP 10 Indonesian Music of All Time” [Part 1]

RADIOMERCURIUS.com|Majalah Rolling Stone Indonesia edisi Desember 2009 menyusun daftar lagu Indonesia bertajuk 150 Lagu Indonesia Terbaik. Lagu-lagu, diproduksi pada lima dekade berbeda, 1950-an hingga 2000-an. Empat kontributor majalah ini, Denny MR (wartawan musik), Denny Sakrie (penyiar radio), David Tarigan (kolektor musik) dan Theodore KS (pengamat musik) bersama-sama ikut menyusun peringkatnya.

Genre lagu sangat beragam. Nyaris semua genre musik, ada.  Ada keroncong, dangdut, jazz, rock, blues, reggae, rock n’roll, soul, dlsb. Bahkan folk juga ada.

Yang menarik, hanya lima musisi –baik solo maupun grup — sebagai pencipta dan penyanyi penyumbang lagu terbanyak (prosentase). Koes Plus, Koes Bersaudara dan Murry 18 buah lagu; Iwan Fals (Swami dan Kantata Takwa) 9 buah lagu; dan Ahmad Albar (Duo Kribo, Gong 2000, God Bless) 5 buah lagu.

Sementara Fariz RM memasok lima buah lagu, dan Chrisye empat buah lagu. Selebihnya, masing-masing musisi hanya menempatkan satu buah lagunya.

Statistik lain yang cukup unik, di antara 150 lagu terdapat tujuh lagu yang berlirik bukan bahasa Indonesia: Ayam Den Lapeh (bahasa Minangkabau) diciptakan Gumarang, Genjer-genjer (bahasa Osing-Banyuwangi) diciptakan Bing Slamet serta lima lagu lainnya berbahasa Inggris.

Posisi “5 Besar”, berturut-turut ditempati lagu Bongkar (Swami), Kebyar-kebyar (Gombloh), Badai Pasti Berlalu (Chrisye & Berlian Hutahuruk), Bis Sekolah (Koes Plus) dan Guru Oemar Bakri (Iwan Fals).

Tidak disertakan (dalam daftar), dasar pemeringkatan atau kriteria tertentu. Misalnya, jumlah copy album/lagu terjual, tingkat popularitas musisi yang terlibat dan jumlah penghargaan yang pernah diterimanya. Atau, kualitas musik dari sebuah lagu yang jadi ukuran. Tapi selera musik seseorang, ujar seorang filsuf, dilarang keras dipertentangkan. Semua, hanya berdasarkan kepentingan semata, atau bersifat personal saja.

Jadi, jangan heran jika Anda menemui seorang pria muda dengan kuping ditindik anting dan mengenakan kaos bergambar Bob Marley tapi lagu kesayangannya ialah Gelas-gelas Kaca milik Dia Daniati, atau Surat Cinta untuk ‘Starlet’, misalnya!

RADIOMERCURIUS.com, sekadar bernostalgia, kali ini menyuguhkan 10 lagu Indonesia yang paling dikenang sepanjang masa dengan titel Top 10 Indonesian Music of All Time. Memang, tidak semua lagu yang dipilih juga masuk dalam daftar 150 lagu Indonesia terbaik. Seperti lagu Anak Adam dari God Bless, Tuhan milik Bimbo dan Titip Rindu Buat Ayah (Ebiet G Ade). Begitu pun dengan nomor peringkatnya, juga tidak sama.

Jadi, posisi 1 sampai 10 di sini tak selalu menunjukkan kualitas, popularitas dan hal-hal lainnya.

Tapi apa pun itu, selain hujan dan parfum, lagu ternyata paling ampuh menguak cerita lampau yang mengharu biru. Siapa tahu juga, di antaranya terselip lagu favorit Anda.

Selamat menikmati….

  1. Sakura – Fariz RM

Plis, jangan dulu protes. Mengapa Sakura yang dipilih, bukan yang lainnya, kan ada Barcelona, Di Antara Kata, Hasrat dan Cinta, atau Batas Rindu?

Tak mudah memilih lagu-lagu Fariz RM, mana yang terbaik. Hampir semuanya indah-indah dan melegenda (andai ‘memungkinkan’, sekalian saja empat atau lima lagunya dimasukkan).

Sakura sendiri ada di album perdana “Sang Genius”, berjudul sama. Rilis tahun 1980 dengan label Akurama Records.

Pertama kali muncul pada 1979 dalam film ‘Sakura dalam Pelukan’, sebagai sound track yang dinyanyikan Grace Simon. Sakura juga telah rilis ulang beberapa kali, oleh Chrisye (2002) dan Rossa (2015) di antaranya.

“…. Terlanjur untuk berhenti| di jalan yang telah tertempuh semenjak dini| sehidup semati…”, deretan lirik yang paling menyesakkan dada yang ada dalam Sakura.

  1. Anak Adam – God Bless

Ahmad Albar (God Bless, Duo Kribo, Gong 2000) menempatkan lima buah lagunya dalam 150 lagu Indonesia terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia. Kehidupan, Panggung Sandiwara, Kepada Perang, Neraka Jahanam dan Rumah Kita. Semuanya sangat tematik, melodius, sarat akan pesan sosial dan tentu saja juga populer.

Tapi, Top 10 Indonesian Music of All Time memilih Anak Adam, jenis rock-progresif dari album berjudul Cermin, album kedua God Bless pada 1980.

Beberapa yang unik dalam diri Anak Adam ini. Selain durasi yang relatif panjang — lebih dari 10 menit, mirip Child in Time-Deep Purple — aransemen lagu ini dianggap ‘melampaui’ zamannya. Intro lagu memasukkan unsur pentatonik, serupa gamelan Bali dengan tempo cepat.

Cermin juga dianggap ‘melawan’ arus industri musik Indonesia. Mengutip situs Wikipedia, komunitas penikmat musik rock Indonesia waktu itu belum siap menerima. Tapi secara estetika musik, Cermin diklaim yang terbaik dari semua album God Bless yang pernah ada.

  1. Badai Pasti Berlalu – Chrisye & Berlian Hutahuruk

Seringkali diplesetkan dengan ‘bajaj pasti berlalu’ lagu Badai Pasti Berlalu juga pernah mengisi film yang berjudul sama, produksi 1977. Di tahun ini pula, Badai Pasti Berlalu yang juga jadi judul album direkam di perusahaan rekaman Irama Mas milik Soejoso Karsono, kakak kandung Mien Lesmana (ibu musisi Indra Lesmana).

Mengutip majalah Aktuil, proses rekaman Badai Pasti Berlalu berlangsung 21 hari, di kawasan Pluit Jakarta. Vokal diisi oleh Chrisye, yang juga bermain bas dan gitar. Berlian Hutauruk penyanyi latar, dengan Fariz RM dan Keenan Nasution sebagai drummer, Debby Nasution dan Jockie Surioprajogo pada kibord.

Merpati Putih, Merepih Alam dan Cintaku termasuk lagu ‘rekomendit’ yang ada dalam album yang sampul depannya bergambar wajah Christina Hakim. Pas didengar sambil ngopi, lama-lama.

  1. Titip Rindu Buat Ayah – Ebiet G Ade

Berbahagia lah Anda yang masih hidup bersama dengan Ayahanda tercinta. Dekat-dekat lah dengan beliau selagi masih ada, sebab lambat atau cepat ia akan beringsut dari sisi kehidupan kita, atau mungkin kita yang akan meninggalkannya lebih dulu sekali pun kita telah menjadi seorang ayah pula bagi anak-anak kita.

Boleh jadi, Titip Rindu Buat Ayah (album Camellia 4, 1980) ingin menyampaikan pesan yang sedemikian menyentuh itu. Abid Goffar Aboe Dja’far, nama asli Ebiet G Ade, mungkin tengah merindukan sang ayah saat menulis liriknya. Tapi, ia memang seorang penyair, penggubah puisi dan prosa yang sering menggoreskan kata dan kalimat tuahnya, dalam bait dan larik-lariknya.

Ebiet, melalui Titip Rindu Buat Ayah, setidaknya telah menyampaikan kepada kita bahwa: “Orang yang pertama kali merasa gundah gulana saat seorang anak sedang tertimpa masalah adalah ayah”.

Meski nafasmu kadang tersengal, memikul beban yang makin sarat, kau tetap bertahan”….

  1. Pemuda – Chaseiro

‘Gerakan mahasiswa’ boleh jadi pemicu lahirnya Chaseiro di tengah kehidupan kampus masa Orde Baru. Ketika itu, menteri Pendidikan Daoed Joesoef menerapkan kebijakan normalisasi kehidupan kampus. NKK dianggap menutup kanal kebebasan berpendapat. Dari kampus kuning Universitas Indonesia, mereka bergerak cepat.

Chaseiro kemudian tumbuh sebagai kelompok band mahasiswa yang berhasil menembus industri musik Indonesia. Lahir lah Pemuda, sekaligus menjadi judul album pada 1979, produksi Musica Studio.

Pemuda, seolah ‘membakar’ semangat kaum muda untuk menyuarakan suara kebebasan dan ajakan bersatu. Tapi, “kami membuat lirik yang menggelitik dibanding bersuara garang, kami menebarkan optimisme daripada kecaman,” kata Chandra Darusman vocalis utama Chaseiro, pada satu kesempatan, 20 tahun kemudian.

Sekitar empat tahun rutin merekam album, Chaseiro sempat ‘hilang’ sekian lama. Pada 2001 mereka kembali dan membuat album Persembahan (2001), dan single Pemuda aransemen baru (2009). [#]

Diolah dari berbagai sumber||Iwan R Rachman & Alvin Anggara

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed